Mengapa tak ku dengar bunyi suaramu
Sakitkah engkau hai,buah hatiku,…dst
Bagitulah bunyinya…eh sorry begitulah sebahagian bunyi syair lagu dari Ibu Sud.
Pada suatu kesempatan Pak Raden dengan bangga menunjukan burung kesayangannya padaku.
Dan saat kami mendekatinya, seketika itu pula burung dalam sangkar itu bergerak jungkir balik dengan lincahnya serta berkicau tak henti-hentinya.
Pak Raden menganggap burungnya itu adalah burung yang patuh,penurut,pandai bernyanyi dan menari,Pak Raden pun merasa dirinya dan burung itu telah saling memiliki dan saling menyayangi,seia sekata, takan terpisahkan walau badai menghadang hingga hayat dikandung badan, begitu kira-kiranya.
Padahal,…
burungnya itu jungkir balik meronta-ronta ingin dilepaskan,
Padahal,…
burungnya itu berkicau berteriak-teriak minta dilepaskan sambil memaki-maki “Lepaskan aku !, lepaskan aku manusia busuk ! manusia keji ! manusia biadab ! manusia edan ! manusia gila ! manusia tirani ! manusia feodal ! manusia dengki !” dsb..dsb…Wah,…pokoknya seabreg-abreg caci maki yang…apabila Pak Raden mengerti bahasa burung pasti burung itu sudah di…bikin opor.
Karena Aku kebetulan pernah kursus bahasa burung, itung-itung sebagai juru bicara maka kusampaikanlah ocehan burung itu pada sang empunya, (tentu saja aku sensor; kasihan kan burung itu nanti kalau sampai di bikin opor).
Begini ; “Pak Raden mohon dengan hormat,lepaskanlah burung itu ! ia minta dilepaskan, ia ingin terbang bebas di angkasa,ia ingin berekreasi,ia ingin pula mencari jodoh sesuai selera nya !”
Apa coba jawabnya ? Ee..ia malah balik bertanya,”Dari mana kau tahu ?”
Setelah ku katakan bahwa aku mengerti bahasa burung, Ee..ia malah menggangapku orang gila “kau ini rupanya sudah gila ya ?” katanya sambil pergi meninggalkanku.
“sama !” kataku tentu saja hanya dalam hati dan pikiranku, dari mana pula ia tahu dan yakin kalau burung itu menyanyi dan menari ?
No comments:
Post a Comment